IBX592EBC03DC493

Kumpulan Cerpen Sedih Bisa Bikin Nangis

Kumpulan Cerpen Sedih Bisa Bikin Nangis - Pagi ini, aku bangun gak semacam hari biasanya. Mataku terbuka tanpa aku mendengar suara sirine ponselku yang sebelumnya tidak sempat nihil untuk membangunkanku tiap pagi dan kulihat ponsel mungilku tetap tergeletak di samping bantal. Tetapi kupikir itu gak sehingga persoalan, soalnya aku tetap bisa bangun cocok waktu. Cepat-cepat kusingkapkan selimutku dan segera melipatnya dengan rapi dan akupun segera beranjak ke kamar mandi. Berakhir mandi, aku segera mengenakan seragam putih abu-abu’ku dan seusai itu aku beranjak ke rak sepatu dan segera menggunakan sepatu hitam bertali lengkap dengan kaos kaki putih.

Seusai persiapanku berakhir, akupun keluar dari kamar. Kuturuni anak-anak tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai bawah. “Aneh!!!”, pikirku dalam hati. Mulai kapan suasana rumahku sehingga sunyi semacam saat ini???
“maaa….”, panggilku memecah kesunyian rumahku. Tetapi tidak ada jawaban sama sekali. “Mungkin mami sedang pergi ke pasar.”, gumamku. Kucoba untuk terbuktigil papaku,mungkin papa belum pergi ke kantor pikirku.
“paaa…papa…”,tak ada jawaban yang kudengar. “Apakah semuanya sedang tidak ada di rumah?”,gumamku lagi.
Lalu aku pun duduk di kursi meja makan dan kulihat tidak ada satupun lembaran roti tawar dan selai coklat kesukaanku terletak di meja makan, tidak semacam hari-hari biasanya. “ Apa mami terlalu sibuk kali ini sampe ‘ nggak nyiapin sarapan buat aku?”, gumamku yang tetap heran dengan kondisi pagi ini. Tetapi susah juga dipertanyakan, sebab tidak ada seorangpun yang bisa kucerca dengan beberapa pertanyaan dariku. Segera kuambil tas dan map plastik berfoto micky mouse yang telah kusiapkan dan kuletakkan di atas ranjangku. Kemudian aku siap untuk pergi sekolah semacam biasanya, walau tanpa aku berpamitan terhadap papa dan mama. Segera aku menuju ke garasi dan kilihat mobil jazz putihku tidak ada di tempat. Aku pun sehingga bingung. “Kemana mobilku? Apa dipinjem papa? Tapi kok gak bilang ya?”, batinku dalam hati.Aaah, ya udah’lah, naek angkot juga bisa..
***

“Sopir angkot tu pada buta kali ya? Ada penumpang kok malah ngeloyor aja!! Udah panas-panas gini.”, gerutuku sambil mengusap keringat yang mulai membasahi keningku. ( Maklum gak sempat naek angkot,jeeng..!! hahaha..:-D). Tetapi tidak berapa lama datang Tante Rina, tetanggaku, dan kusapa beliau, “ Tante”, sambil kubuka bibirku untuk menampilkan senyum manisku (Gula aja kalah manis...:-D). Tetapi tidak kusangka, Tante Rina yang biasanya ramah sama aku, justru berbalik 180°. Tidak ada jawaban satu kata pun darinya, senyum pun tidak ada. Justru ia sibuk dengan ponselnya. Semacamnya ponselnya tetap baru, mungkin sebab itu Tante Rina sehingga super cuek sama aku. Tapi ya telahlah, kumaklumi. Dan aku konsentrasi lagi untuk menyegat angkot dan mulai melambai-lambaikan tanganku dengan gemulai. Seusai tiga angkot yang lewat tanpa mempedulikanku, akupun mulai menyerah. “Susah banget sih nyegat angkot?!?!..”, gumamku dengan dongkol sambil mengusap dahi yang telah berkeringat sebesar jagung. Kemudian kulihat Tante Rina mengayunkan tangan untuk menyegat angkot dan angkot pun berhenti. Sesaat kupikir, “kenapa ya? Apa sopir-sopir angkot ne pilih-pilih kalo cari penumpang? Giliran Tante Rina aja yang nyegat,langsung berenti. Boro-boro aku, malah gak ada yang mau berenti”. Tapi ya telahlah, kalu begini aku juga dapet untungnya. Akupun naik ke dalam angkot yang berwana biru itu. Aku sengaja duduk di segi dekat pintu, sebab aku suka mabok darat kalau naik angkot. Hehehe. Kulihat Tante Rina duduk di segi pojok angkot dengan tetap asyik sama ponsel barunya dan sekali-sekali juga telepon. Jadinya kutahan mulut ini untuk menyapanya hingga mengganggu aktivitasnya dengan ponsel baru tersebut. Hingga akhirnya hinggalah di depan sekolahku dan akupun turun.

Kelas sepi banget, hampir semua kawan-kawan satu kelas tidak masuk dan yang ada hanya Sella, Risa, Dian, dan Oza dan aku yang duduk sendiri di baris ketiga dari depan dan berjarak agak jauh dari yang lainnya. Sengaja aku duduk berjauhan dari mereka, soalnya aku terbukti gak terlalu suka dengan mereka yang sok kaya dan hobbynya yang cerpen sedih cuma shopping..shopping…dan shopping.. Tapi ya udah deh, biarin aja... Bel awal pelajaran pun berbunyi dan kulihat dari jendela terkesan Pak Danu menuju ke kelas. Dan sesampainya di kelas..
“ Assalamualaikum, anak- anak. Pagi ini suasana kelas sangat sepi ya. Mungkin lagi berduka semua bakal kepergian kawan kalian.”, sapa Pak Danu sambil meletakkan map dan buku-buku yang dibawanya ke atas meja.
“ Berduka karna siapa, Pak?”, tanyaku penasaran. Tetapi tidak ada jawaban. Pak Danu justru mengundang berdoa untuk memulai pelajaran.
“ Sialan!! Kok gak ada yang bilang sih kalo kini ini ada mbolos massal?!?!?”, celotehku kesal sambil menyalin tulisan Pak Danu di papan tulis. Di lain sisi, akupun juga memperhatikan Sella yang tidak tahu kenapa kali ini terkesan murung ataupun kecewa, begitupun dengan tiga sahabatnya. Akupun bertanya-tanya dalam hati, “kenapa tu anak-anak shopaholic mukanya pada kecewa gitu ya?”, lalu “ mau nanya, males aahhh..biarin deh, emang aku pikirin.” . Kembali aku konsen untuk menulis catatanku lagi.

Pulang sekolah akupun berniat untuk mampir ke rumah Rizal, pacarku yang telah mengantarkan aku tidak lebih lebih 3 tahun. Usianya terbukti lumayan tua dibandingkan aku, kami terpaut usia 6 tahun. Tetapi bagiku itu tidak sehingga persoalan, yang paling penting merupakan ketulusan cintanya ke aku dan papa dan mami pun mendukung hubungan kami. Justru papa dan mami menyarankan supaya Rizal segera melamarku saat usiaku telah 21 tahun, kira-kira tetap 3 tahun lagi. Argumen yang tidak jarang dikemukakan merupakan takut Rizalnya sehingga tambah tua.Hahahaha…:-D

Akupun naik angkot lagi menuju rumah Rizal. Rasanya panas banget di dalam angkot meskipun hanya aku saja penumpang yang tertinggal satu-satunya di dalam angkot. Segera kuambil satu buah buku tulis yang lumayan tipis dan mulai kukipas-kipaskan ke wajahku untuk menanggulangi suhu panas yang ada di dalam angkot ini. “ Gara-gara mobilku pake ng’ilang segala sih, sehingga panas-panasan gini deh”, omelku.

Di perjalanan, ada satu faktor yang hebat perhatianku. Seusai angkot yang kutumpangi melalui kantor polisi yang tidak jauh dari rumah Rizal, terkesan ada mobil yang keadaannya rusak banget plus peyok, “kayak’nya mobil ini baru kecelakaan deh, parah banget tuh hingga rusak berat gitu”, pikirku. Tetapi seusai kuterawang lebih jelas, mobil itu hampir sama dengan mobil yang biasa kukendarai kemanapun aku pergi. Mobil itu berwarna dasar putih, sama semacam kepunyaanku. Hanya saja mobil itu mempunyai bercak-bercak coklat bekas cipratan lumpur dan ada sedikit bercak-bercak berwarna merah gelap hampir serupa dengan bekas darah yang telah mengering. Tetapi segera ku hilangkan pikiran itu sebab aku telah hingga di tempat tujuan.
Aku pun melompat dari angkot gila itu. “ Emang sopir angkot edaaan, gak lulus ujian SIM kali ya”, celotehku sambil membersihkan rok abu-abuku yang sedikit kotor gara-gara aku terjatuh pada saat turun dari angkot. Habisnya aku telah bilang buat berhenti, tapi sopirnya tetep aja kenceng, akhirnya aku lompat deh. Tapi ada untungnya juga, aku sehingga gak usah bayar.Hehehehehe….:-)

Gerbang putih yang telah kusam itu terkunci dengan gembok berkapasitas sedang. “Tumben-tumbennya ne pager digembok. Apa Rizal lagi pergi kali ya?!?! Tapi kok gak sms aku sih?”, bisikku dalam hati. Aah ya telah, lebih baik aku pulang ke rumah. “Mungkin jalan kaki lebih baik”, pikirku sambil bebalik meninggalkan rumah Rizal yang terkesan sepi.

Langkah menuju rumah pun udah gak seberapa jauh, kira-kira delapan rumah lagilah aku bisa hingga di depan rumah. Kupercepat langkahku sebab aku telah tidak sabar untuk hingga di rumah. Tubuh yang telah penuh dengan keringat dan tenggorokan yang mulai membutuhkan cairan pun terus tidak sabar untuk segera melepas semua kostum pelajarku dan mengisi mulutku dengan air putih yang segar. Tetapi kecepatan langkahku terus bertidak lebih. Kulihat tidak sedikit mobil dan sepeda motor yang terpakir tidak beraturan di pinggir jalan depan rumah.” Ada apa ya?”, tanyaku heran.
Entah kenapa hatiku serasa dag..dig..dug..saat aku menonton bendera putih berpalang hitam berkibar di atas psupaya rumahku. Tetapi langkahku pun terus cepat hingga kakiku telah melangkah masuk ke dalam psupaya dan menonton tidak sedikit orang berkumpul di rumahku. “ Ada apa ini?”, tanyaku dengan perasaan yang tidak karuan sambil menonton sekelilingku. Semua wajah hanya kaku tanpa ekspresi yang menunjukkan senyum yang berarti. Justru ekspresi kecewa yang hanya ditampakkan. Kulihat Rani dan hampir semua kawanku ada di segi samping halaman rumahku. Kuhampiri mereka. “ Ran, ada apa ini? Siapa yang meninggal?”, tidak ada jawaban sepatah katapun dari bibirnya yang tertutup rapat dengan wajah yang ditundukkan ke bawah.” Raaann..Kamu jawab dong..”,pintaku dengan mata yang mulai panas, entah sebab apa.

Kupejamkan mataku sesaat untuk menetralkan kondisi mataku. Saat ku buka mataku kembali, kulihat Rizal duduk di aspek belakang halaman rumahku. Terkesan dari jauh bahwa ia sangat kecewa. Kuhampiri Rizal dan terus jelas di mataku bagaimana kondisi Rizal saat ini. Mata yang mempunyai bulu mata yang lentik itupun mengeluarkan air matanya dengan deras hingga pipinya yang menggemaskan itu basah. Akupun merasa mataku kembali merasa panas sebab menonton Rizal dengan kondisi semacam ini. Segera kuletakkan tas dan mapku disamping pot bunga bougenvil dan aku segera duduk disampingnya. “ Sayang, kenapa kalian nangis?”, tanyaku dengan suara yang agak sedikit bergetar. Tidak ada jawaban sedikitpun dari bibirnya justru tangisnya yang terus menderu.”Sayang..ada apa ini? Jawab dong, jangan bikin aku penasaran.”, tanyaku lagi dengan mata yang udah meneteskan air mata tanpa bias kubendung lagi dan ku sentuh tangan Rizal. Tapiii..
“ Tuhan, kenapa aku? Di mana ragaku? Kenapa aku gak bias menyetuhnya.”, rintihku sambil berdiri, kutinggalkan Rizal sendiri dan berlangsung ke dalam rumah. Terkesan Papa sedang memeluk mami yang nyatanya sejak tadi telah menangis dan sesekali kulihat juga jatuh pingsan. Kulihat disisi kiri ruang tamu dan nyatanya ada sesosok tubuh kaku berselimutkan kain putih, gadis yang malang. Tidak lain itu merupakan tubuhku. Ragaku telah mati dan jiwaku tidak bisa lagi mengnasibkannya. Kuhampiri ragaku dan tersungkur aku disisinya. “ Kini, aku tidak lagi bisa memtersanjungkan papa sama mama. Aku tidak lagi bisa mewujudkan mimpiku untuk menikah dan mengantarkan Rizal dan menjadi bunda yang baik bagi anak-anakku. Tuhan mengapa ini terjadi?”, tangisku membahana seluruh alam yang tidak tahu wajib kunamakan alam apa.

Teringat kejadian tadi pagi. Pagi-pagi benar kurang lebih pukul 04.00, aku bangun dan segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Seusai itu, segera ku berganti pakaian dengan t-shirt berfoto Donal Bebek, tokoh kartun kesayanganku dan celana selutut berwarna hitam. Tidak lupa kukenakan sepatu olahragaku yang berwarna putih bervariasi dengan warna biru laut.

Cocok pukul 04.30, aku segera menuju garasi dan segera mengnasibkan mobil jazz putihku dan pergi ke rumah Rizal. Pagi ini, aku terbukti punya janji untuk berolahraga pagi ke alun-alun kota, semacam hari-hari biasanya. Tidak tahu kenapa ada sesuatu yang aneh terjadi pada mobil yang kukendarai ini. Dan seusai kusadari nyatanya rem mobil’lu blong. Akupun panik, aku tidak tahu wajib bertindak apa?
“ Tuhan, tolong aku!!!!”, jeritku dalam kekalutanku di dalm mobil.
Tetapi dari arah berlawanan, kulihat suatu  truk melaju dengan kecepatan tinggi, akupun tidak bisa menghindarinya. Akupun tertabrak. Entah bagaimana keadaanku selanjutnya. Yang kutahu, saat ini aku telah pergi untuk selama-lamanya. Walau aku telah tiada di dunia, tapi aku percaya. Aku bakal tetap nasib di hati keluargaku dan di hati Rizal.
Kumpulan Cerpen Sedih Bisa Bikin Nangis | Mariyana Yana | 5